Reportase Expose.com, Sendawar – Bukanlah Kutai Barat jika tak bisa membuat kejutan. Kini, Bumi Tanaa Purai Ngeriman genap berusia 26 tahun. Melalui Festival Dahau 2025, beragam kegiatan, atraksi budaya, dan pesta rakyat kembali digelar untuk memeriahkan hari jadi kabupaten.
Di jantung kota Sendawar, malam festival tampak berkilau. Lampu sorot, dan layar raksasa di panggung utama Taman Budaya Sendawar (TBS) menyalakan semangat dan kebanggaan warga. Namun di balik gemerlap itu, ada ironi yang tak kalah mencolok, karena tak semua sudut Kutai Barat diterangi cahaya.
Pantauan media ini, di jalur vital antara Kampung Ngenyan Asa hingga Kampung Royok, Kecamatan Barong Tongkok, puluhan lampu jalan padam total. Selama hampir sebulan terakhir, ruas ini nyaris tenggelam dalam kegelapan. Hanya beberapa titik yang masih menyala samar, selebihnya gulita.
“Sudah hampir sebulan lampu jalan tidak pernah diperbaiki. Jalanan gelap sekali, apalagi sekarang banyak kendaraan keluar masuk karena acara Dahau,” ujar Ana, warga yang tiap malam melintas dari Melak ke Barong Tongkok, Senin (27/10/2025).
Menurutnya, jalur itu kini bak “lorong maut tanpa akhir.” Banyak kendaraan melaju dengan jarak pandang terbatas, meningkatkan risiko kecelakaan.
“Kalau siang memang aman. Tapi malam hari? Seperti jalan mati. Kadang saya harus nyalakan lampu jauh terus biar kelihatan,” keluhnya.
Ana menilai pemerintah daerah dan Dinas Perhubungan terlalu sibuk mengatur panggung hiburan, hingga lupa bahwa penerangan jalan adalah bagian dari keselamatan publik.
“Sepertinya Pemkab lebih sibuk urus acara seremonial ketimbang keselamatan warga. Kalau ada kecelakaan, siapa yang tanggung jawab?” ujarnya dengan nada kesal.
Minimnya penerangan juga membuat warga enggan pulang malam usai menonton festival. Banyak yang khawatir melintas sendiri, apalagi di area gelap yang kerap jadi jalur kendaraan berat.
“Kadang ada anak muda pulang dari Dahau malam-malam, boncengan tiga, lampu motor redup. Kalau jalan terang, masih bisa kelihatan. Tapi sekarang, semuanya gelap,” tambah Ana.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan, bukan menunggu festival usai.
“Kami bayar pajak kendaraan, bayar listrik, tapi penerangan jalan kok tidak dapat perhatian? Rakyat tidak butuh panggung gemerlap kalau jalan ke rumah saja gelap,” tegasnya.
Beberapa warga bahkan membandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana menjelang Dahau biasanya Dishub aktif mengganti bola lampu dan memeriksa jaringan PJU. Tahun ini, tak terlihat ada perbaikan berarti.
“Biasanya sebelum acara besar, mereka sempat keliling. Sekarang tidak ada. Dari ujung Melak sampai Barong, tetap saja gelap,” tutur warga lain.
Ironisnya, ketika panggung festival di pusat kota terang benderang hingga tengah malam, jalur utama kabupaten justru tenggelam dalam kegelapan. Sebuah kontras yang menampar kesadaran bahwa kemeriahan kadang hanya berhenti di pusat kota, sementara tepiannya dibiarkan tanpa cahaya.
“Dahau boleh meriah, tapi jangan biarkan jalan utama seperti kuburan,” pungkas Ana.
Pemerintah daerah tentu patut diapresiasi atas upaya mengangkat kembali semangat budaya lewat Festival Dahau. Namun, semoga kilauan panggung tidak membuat mata para pejabat silau hingga lupa menoleh ke jalan-jalan gelap yang setiap malam dilalui rakyatnya. Sebab, di luar cahaya sorotan festival.
Masih banyak lampu yang seharusnya menyala, tapi padam bukan karena hujan, melainkan karena abainya perhatian. Selain itu, masyarakat pun bertanya-tanya berapa biaya yang digelonotorkan untuk kegiatan pesta rakyat.
Penulis: Johansyah






