Reportase Expose.com, Sendawar — Sejak resmi dibuka oleh Bupati Kutai Barat (Kubar) Frederick Edwin dalam rangka memperingati Hari Jadi Kutai Barat ke-26, kemeriahan Festival Dahau 2025 di Taman Budaya Sendawar, Kecamatan Barong Tongkok, menjadi magnet bagi ribuan warga. Acara yang dimulai pada Kamis, 23 Oktober 2025 itu menampilkan beragam pertunjukan seni, budaya, serta pameran dari berbagai instansi pemerintah dan pelaku usaha lokal.
Selain menyuguhkan atraksi khas daerah, panitia juga menyiapkan stand kuliner UMKM yang menghadirkan cita rasa masakan khas Kutai Barat. Deretan tenda di halaman Gedung PKK Kabupaten Kutai Barat ramai dipadati pengunjung setiap malam.
Namun, di balik keceriaan pesta rakyat tersebut, terselip keluhan dari sejumlah pedagang kecil yang berjualan di area kuliner festival.
Salah satu pelaku usaha kuliner, sebut saja A, mengaku bahwa setiap stand dikenakan biaya sewa sebesar Rp1 juta untuk masa pelaksanaan festival.
“Kami diminta Rp1 juta selama acara berlangsung, tapi baru diminta Rp500 ribu dulu sebagai panjar,” ujarnya saat ditemui, Sabtu (25/10/2025).
Tidak hanya itu, para pedagang juga mengaku masih dikenai tarikan tambahan Rp20 ribu per hari dengan alasan untuk biaya kebersihan.
“Selain uang sewa, ada juga tarikan Rp20 ribu setiap malam, katanya buat kebersihan,” ungkapnya.
Berdasarkan hasil penelusuran reportaseexpose.com, terdapat ratusan stand kuliner yang beroperasi di halaman Gedung PKK selama festival berlangsung.
Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada kejelasan mengenai pihak mana yang bertanggung jawab atas pungutan tersebut — apakah berasal dari panitia resmi penyelenggara Festival Dahau atau instansi tertentu.
Hal ini menimbulkan tanda tanya publik, mengingat lokasi yang digunakan merupakan aset Pemerintah Kabupaten Kutai Barat, sehingga hasil pungutan sewa stand semestinya berpotensi menjadi bagian dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pihak panitia maupun instansi terkait hingga kini belum memberikan klarifikasi resmi terkait alur pemungutan biaya sewa dan kebersihan tersebut.
Media ini masih terus melakukan konfirmasi lanjutan untuk memastikan transparansi dalam pelaksanaan Festival Dahau yang sejatinya menjadi ajang promosi budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Penulis: Johansyah






