Menjaga Jejak Leluhur: Disdikbud Kutai Barat Gali Warisan Adat Dayak Benuaq–Tunjung Lewat Tujuh Buku Kearifan Lokal

REPORTASEEXPOSE.COM, SENDAWAR – Dalam semangat menjaga warisan leluhur dan memperkuat identitas budaya daerah, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) resmi melaksanakan program penulisan tujuh buku kearifan lokal yang menggali sejarah, adat istiadat, serta nilai-nilai luhur masyarakat Dayak Benuaq dan Tunjung.

Program yang menjadi bagian dari gerakan literasi budaya ini telah memasuki tahap presentasi laporan pendahuluan, Kamis (16/10/2025), di Ruang Rapat Disdikbud Kutai Barat. Melalui mekanisme swakelola tipe III, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah nyata untuk menulis kembali jejak sejarah dan kearifan lokal yang selama ini diwariskan secara lisan.

Bacaan Lainnya

“Penulisan ini bukan sekadar catatan akademik, tapi juga sarana bagi masyarakat untuk mengenal jati diri budayanya,” ujar Fidelis Nyongka, salah satu penulis yang terlibat. Ia menjelaskan, tahapan awal berfokus pada pemetaan lokasi riset, sistematika penulisan, hingga kerangka isi yang akan dituangkan dalam masing-masing buku.

Tujuh judul yang sedang digarap antara lain:
1. Pelangi Sendawar (kumpulan cerita rakyat Kutai Barat)
2. 101 Nasihat Bijak dalam Ritual Perkawinan Adat Dayak Benuaq
3. Pesan Eskatologis dalam Ritual Kematian Dayak Benuaq
4. Monaq dan Ringeng Jilid II
5. Sejarah Lamin Tolan, Mancong, Benung, dan Pepas Eheng
6. Strategi Pembangunan dan Pelestarian Adat serta Hukum Adat Budaya Rentenukng Berbasis Komunitas Lokal
7. Sejarah Kampung-Kampung di Kawasan Linggang

Menurut Fidelis, seluruh proses penulisan ditargetkan rampung pada awal Desember, agar dapat segera dicetak sebelum akhir tahun. “Kalau dulu budaya diwariskan lewat tutur, kini kita menulisnya agar abadi. Banyak generasi muda tahu nama Lamin Tolan, tapi belum tahu kisah asal-usulnya. Lewat buku, semua itu bisa diwariskan dengan utuh,” ujarnya.

Sementara itu, Paulus Kadok, Direktur Perkumpulan Bina Benua Putijaji yang dipercaya sebagai pelaksana kegiatan, menegaskan bahwa proyek ini menjadi tonggak kebangkitan literasi budaya di Kutai Barat. “Kebudayaan kita selama ini sering ditulis oleh orang luar. Kini, waktunya orang Kutai Barat sendiri menuturkan sejarahnya. Dengan begitu, maknanya lebih dalam dan sesuai konteks adat kita,” katanya.

Ia menambahkan, para penulis tidak hanya bekerja di balik meja, melainkan turun langsung ke lapangan untuk mendengar cerita para kepala adat, dan tetua kampung. “Setiap Lamin punya roh dan sejarahnya sendiri. Kami menulis bukan sekadar bentuk bangunan, tapi nilai kehidupan di dalamnya,” ujarnya.

Paulus juga mencontohkan buku 101 Nasihat Bijak dalam Perkawinan Adat Dayak Benuaq, yang berisi nilai-nilai moral dan filosofi hidup. “Buku ini bukan sekadar panduan adat, tetapi cermin kehidupan yang sarat makna spiritual dan sosial. Kita ingin anak-anak tahu bahwa dalam setiap upacara adat, tersimpan pesan leluhur yang membimbing kehidupan,” tambahnya.

Dari pihak pemerintah, Yusuf Subyarwono, Kabid Pembinaan Pendidikan Dasar Disdikbud Kutai Barat, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan komitmen pemerintah daerah di bawah kepemimpinan Bupati Frederik Edwin dalam melestarikan budaya lokal. “Bupati sangat menaruh perhatian pada pendokumentasian budaya. Karena kalau tidak kita tulis sekarang, generasi berikutnya hanya akan mendengar sepenggal kisah tanpa akar,” tegasnya.

Yusuf menjelaskan, mekanisme swakelola tipe III dipilih agar pelaksanaan dapat langsung melibatkan komunitas lokal dan para penulis daerah. “Ini bukan proyek biasa. Kami ingin yang menulis adalah putra daerah sendiri, agar hasilnya tidak kehilangan roh dan konteks adat,” ujarnya.

Untuk tahap awal, setiap judul akan dicetak terbatas sekitar 100 eksemplar. Setelah memperoleh lisensi dan pengakuan resmi, buku-buku tersebut akan diperbanyak untuk disebarkan ke sekolah-sekolah dan komunitas adat. “Tujuan akhirnya adalah menjadikan buku-buku ini bahan ajar muatan lokal di sekolah, agar anak-anak sejak dini belajar mencintai akar budayanya,” jelas Yusuf.

Melalui penulisan tujuh buku ini, Kutai Barat tidak hanya menorehkan sejarah literasi budaya, tetapi juga meneguhkan jati diri sebagai daerah yang menjunjung tinggi warisan leluhur. Sebagaimana petuah Dayak Benuaq:

“Tanaq, ulaq, lembooq, dan tuhaq — empat unsur kehidupan harus dijaga agar seimbang.”
Dengan semangat itu, langkah Disdikbud Kutai Barat bukan sekadar proyek kebudayaan, tetapi sebuah gerakan menulis kembali napas adat dan warisan spiritual suku Dayak Benuaq dan Tunjung agar tetap hidup di tengah arus zaman.

Penulis: Johansyah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *