KAS Group Perkuat Tata Kelola Sawit Berkelanjutan, Targetkan Seluruh Unit Bersertifikat ISPO pada 2027

Jakarta Reportase Expose.com – Di tengah semakin ketatnya tuntutan pasar global terhadap praktik perkebunan yang berkelanjutan, sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) kini menjadi tolak ukur penting bagi perusahaan sawit dalam menjalankan tata kelola usaha yang bertanggung jawab. Namun bagi Kalimantan Agro Sukses (KAS) Group, sertifikasi bukan sekadar pemenuhan kewajiban regulasi, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang untuk membangun industri sawit yang berdaya saing, transparan, dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut kembali dibuktikan pada Juni 2026 ketika empat anak perusahaan KAS Group, yakni PT Agro Manunggal Selaras (AMS), PT Borneo Citra Persada Jaya (BCPJ), PT Borneo Citra Persada Abadi (BCPA), dan PT Borneo Citra Persada Mandiri (BCPM), resmi memperoleh sertifikat ISPO.

Bacaan Lainnya

Sertifikasi tersebut mencakup sekitar 50 ribu hektare areal perkebunan dan tiga pabrik kelapa sawit yang beroperasi di Kalimantan Timur. Pencapaian ini melengkapi dua sertifikat ISPO yang lebih dahulu diraih oleh PT Citra Palma Pertiwi (CPP) dan PT Setia Agro Abadi (SAA) yang mengelola sekitar 20 ribu hektare lahan perkebunan.

Dengan demikian, hingga pertengahan 2026, sebanyak enam perusahaan perkebunan dan tiga pabrik kelapa sawit di bawah naungan KAS Group telah mengantongi sertifikasi ISPO. Capaian tersebut sekaligus menempatkan sekitar 80 persen unit usaha KAS Group dalam kategori tersertifikasi dan menjadi langkah strategis menuju target seluruh unit usaha bersertifikat ISPO pada tahun 2027.

Proses Panjang Menuju Sertifikasi

Sustainability KAS Group, Adi Bijaksana, menjelaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses persiapan yang berlangsung selama bertahun-tahun. Berbagai pembenahan dilakukan sejak 2021 hingga 2022 untuk memastikan seluruh aspek operasional memenuhi prinsip keberlanjutan sesuai standar ISPO.

Mulai dari pembangunan fasilitas pendukung, penyediaan sarana dan prasarana bagi karyawan, pemenuhan legalitas dan perizinan, implementasi prinsip dan kriteria ISPO, hingga penerapan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dilakukan secara bertahap dan terukur.

“Dari awal pembukaan lahan hingga menghasilkan, kami berupaya memastikan seluruh proses berjalan dengan baik. Itu yang menjadi modal utama kami untuk percaya diri mengikuti sertifikasi ISPO,” ujar Adi. Kamis (13/8/2026).

Meski persiapan telah dilakukan sejak beberapa tahun sebelumnya, pengajuan sertifikasi baru dilakukan pada 2025 setelah seluruh dokumen dan persyaratan dinilai telah memenuhi regulasi terbaru. Sebelum memasuki audit resmi, perusahaan juga melaksanakan audit internal guna mengukur kesiapan masing-masing unit usaha.

Menurut Adi, tantangan terbesar dalam implementasi ISPO bukan terletak pada aspek administratif semata, melainkan pada konsistensi penerapan kebijakan di seluruh tingkatan organisasi.

“ISPO pada dasarnya adalah sistem kepatuhan. Ketika perusahaan sudah memiliki komitmen, tantangannya adalah bagaimana memastikan seluruh elemen memahami dan menjalankannya secara berkelanjutan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kebijakan terkait K3, hubungan sosial kemasyarakatan, hingga tata kelola keberlanjutan harus terus disosialisasikan kepada seluruh karyawan dan masyarakat sekitar karena menyangkut perilaku, pemahaman, serta budaya kerja sehari-hari.

Menjaga Keseimbangan Profit, People, dan Planet

Bagi KAS Group, sertifikasi ISPO tidak hanya menjadi instrumen kepatuhan terhadap regulasi pemerintah, tetapi juga alat ukur untuk memastikan keseimbangan antara pertumbuhan usaha, kesejahteraan manusia, dan kelestarian lingkungan.

Konsep triple bottom line yang mencakup aspek profit, people, dan planet menjadi landasan perusahaan dalam menjalankan strategi bisnis jangka panjang. Melalui sertifikasi tersebut, perusahaan berupaya memastikan bahwa kegiatan operasional tetap memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga aspek sosial dan lingkungan secara berkelanjutan.

Saat ini, KAS Group juga tengah mempersiapkan dua anak usaha lainnya untuk mengikuti proses sertifikasi ISPO. Audit dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat dengan target seluruh unit usaha memperoleh sertifikat paling lambat pada 2027.

Membuka Peluang Menuju Sertifikasi RSPO

Setelah berhasil memperluas cakupan sertifikasi ISPO, KAS Group mulai mempertimbangkan langkah berikutnya melalui penerapan sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Berbeda dengan ISPO yang bersifat wajib berdasarkan regulasi pemerintah, RSPO merupakan sertifikasi sukarela yang dikenal memiliki standar keberlanjutan lebih luas dan diakui oleh pasar internasional.

“Untuk saat ini fokus kami tetap pada ISPO karena sifatnya mandatori. Tetapi ke depan, RSPO menjadi salah satu opsi yang ingin kami tempuh secara bertahap,” ungkap Adi.

Audit Ketat dan Komitmen Manajemen

ISPO Scheme Manager PT Global Gateway Certifications Indonesia (GGCI), Vallen Sakti Maulana, menjelaskan bahwa proses audit terhadap empat perusahaan KAS Group dimulai sejak Januari 2026.

Setelah melalui tahapan verifikasi, evaluasi, perbaikan, dan penilaian menyeluruh terhadap seluruh aspek operasional, sertifikat ISPO akhirnya diterbitkan dan diserahkan pada 6 Juni 2026.

Menurut Vallen, seluruh prinsip dan kriteria dalam ISPO bersifat wajib dan harus dipenuhi secara menyeluruh tanpa pengecualian. Aspek yang dinilai meliputi legalitas usaha dan hak atas tanah, praktik perkebunan yang baik, pengelolaan lingkungan, perlindungan hak pekerja, hubungan dengan masyarakat sekitar, transparansi rantai pasok, hingga komitmen keberlanjutan jangka panjang.

“Perusahaan perkebunan tidak bisa berdiri sendiri. Mereka berada di tengah masyarakat dan lingkungan yang harus dijaga. Karena itu hubungan sosial dan tanggung jawab lingkungan menjadi bagian penting dari sertifikasi,” jelasnya.

Dalam proses audit, GGCI menilai komitmen manajemen KAS Group menjadi salah satu faktor utama yang mendukung keberhasilan sertifikasi. Baik jajaran manajemen pusat maupun unit operasional di lapangan dinilai menunjukkan keseriusan dalam melakukan perbaikan berkelanjutan.

Dokumentasi yang tertata, pengendalian operasional yang baik, serta keterbukaan terhadap rekomendasi perbaikan menjadi modal penting dalam memenuhi standar ISPO.

Kolaborasi Menjadi Kunci Keberhasilan

Keberhasilan sertifikasi di lingkungan KAS Group juga tidak terlepas dari dukungan penuh para General Manager (GM), Manager Kebun, Mill Manager, serta tim operasional di lapangan yang secara aktif mengawal pemenuhan berbagai persyaratan sertifikasi.

Kolaborasi lintas fungsi tersebut menjadi faktor penting yang mempercepat proses sertifikasi sehingga sejumlah unit usaha mampu memperoleh sertifikat dalam waktu yang relatif singkat.

Seiring meningkatnya tuntutan pasar global terhadap praktik produksi yang bertanggung jawab, pencapaian ini menjadi lebih dari sekadar pemenuhan regulasi. Sertifikasi ISPO kini menjadi indikator bahwa perusahaan telah menempatkan tata kelola, ketertelusuran, kepatuhan hukum, dan keberlanjutan sebagai bagian integral dari strategi bisnisnya.

Bagi KAS Group, keberhasilan enam perusahaan memperoleh sertifikasi ISPO menandai babak baru dalam perjalanan transformasi perusahaan menuju industri sawit yang lebih modern dan berkelanjutan. Dengan fondasi yang telah dibangun serta dukungan seluruh jajaran manajemen hingga karyawan di lapangan, implementasi ISPO tidak lagi dipandang sebagai target administratif semata, melainkan sebagai budaya kerja yang terus diperkuat.

Di tengah dinamika industri sawit global yang semakin menuntut transparansi dan akuntabilitas, langkah tersebut menjadi modal penting bagi KAS Group untuk memperkuat daya saing sekaligus membuktikan bahwa pertumbuhan bisnis dapat berjalan selaras dengan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Penulis: Johansyah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *