Didesak Ratusan Massa TBBR, PT TCM Akhirnya Sepakati Pertemuan dengan Ahli Waris Kincan Soal Tuntutan Rp3 Miliar

Reportase Expose.com Sendawar – Ketidakjelasan sikap manajemen PT Trubaindo Coal Mining (TCM) terhadap tuntutan ganti rugi tanam tumbuh yang diajukan ahli waris Kincan memicu gelombang aksi damai yang melibatkan ratusan massa dari organisasi Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR) di kawasan operasional perusahaan, Site Bunyut, Kecamatan Melak, Kabupaten Kutai Barat, sejak Jumat (19/6/2026) hingga Sabtu (20/6/2026).

Aksi tersebut menjadi bentuk desakan moral agar perusahaan menunjukkan tanggung jawab dan itikad baik dalam menyelesaikan klaim yang telah lama diperjuangkan ahli waris. Massa menilai perusahaan tidak seharusnya membiarkan persoalan yang menyangkut hak-hak masyarakat dan ahli waris berlarut-larut tanpa kepastian penyelesaian.

Bacaan Lainnya

Setelah dua hari berlangsung, aksi damai tersebut akhirnya menghasilkan titik temu. Manajemen PT TCM dan ahli waris Kincan sepakat untuk menggelar pertemuan pada 7 Juli 2026 guna membahas dan mencari penyelesaian atas tuntutan uang ganti rugi tanam tumbuh yang diklaim pihak ahli waris senilai Rp3 miliar.

Selama pelaksanaan aksi, situasi tetap aman dan kondusif tanpa adanya insiden yang mengganggu keamanan maupun aktivitas masyarakat.

Kapolres Kutai Barat melalui Kepala Bagian Operasi (Kabag Ops) Polres Kutai Barat, KOMPOL Emanuel Teguh Budi Santoso, S.T., mengatakan pihaknya menghormati hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat di muka umum, namun seluruh kegiatan harus tetap berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Kami terus membangun komunikasi dengan Ketua DPD TBBR Kutai Barat beserta para koordinator lapangan. Kami mengimbau seluruh peserta aksi untuk tetap tenang, menghormati proses yang sedang berlangsung, serta tidak terpancing melakukan tindakan yang melanggar hukum,” tegas Teguh di lokasi. Sabtu (20/6/2026).

Di sisi lain, kekecewaan mendalam dirasakan ahli waris Kincan dan massa TBBR karena hingga menjelang tengah malam pihak manajemen perusahaan tidak kunjung menemui peserta aksi yang telah menunggu sejak pagi hari. Kondisi tersebut membuat ratusan peserta aksi memilih bertahan di lokasi dengan mendirikan tenda darurat menggunakan terpal di depan gerbang perusahaan dan bermalam di area tersebut.

Dengan mengenakan seragam merah khas TBBR serta atribut adat Dayak, massa tetap bertahan sambil menunggu kepastian dan tanggapan resmi dari pihak perusahaan atas tuntutan yang mereka sampaikan.

Ahli waris Kincan menyatakan bahwa perjuangan yang dilakukan bukan semata-mata soal nilai materi, melainkan menyangkut penghormatan terhadap hak-hak masyarakat yang mereka yakini belum terselesaikan.

“Kami datang dengan cara baik-baik dan mengedepankan jalur damai. Yang kami harapkan hanya kepastian dan tanggung jawab perusahaan untuk menyelesaikan persoalan yang selama ini kami perjuangkan. Jangan sampai masyarakat terus menunggu tanpa kejelasan. Pertemuan tanggal 7 Juli nanti harus menjadi momentum penyelesaian yang nyata, bukan sekadar janji,” tegas Kincan.

Menyikapi situasi tersebut, pihak kepolisian mengaku telah berupaya memfasilitasi komunikasi antara massa dan perusahaan guna mendorong terciptanya dialog yang konstruktif.

“Kami sudah berupaya memfasilitasi proses komunikasi dan meminta pihak perusahaan segera memberikan kejelasan kepada peserta aksi,” ujar Teguh.

Aksi tersebut merupakan tindak lanjut dari proses mediasi yang sebelumnya difasilitasi Pemerintah Kabupaten Kutai Barat. Namun hingga kini, perundingan yang dilakukan belum menghasilkan kesepakatan karena masing-masing pihak masih mempertahankan posisi dan pandangannya.

TBBR menegaskan bahwa aksi yang dilakukan mengedepankan pendekatan damai, menghormati ketentuan hukum, serta tetap menjaga keamanan dan ketertiban umum. Organisasi tersebut juga meminta dukungan pengamanan dari aparat kepolisian agar seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan terkendali.

“Kami akan terus mengawal perjuangan masyarakat dan ahli waris sampai ada kejelasan serta penyelesaian yang adil. Kehadiran kami adalah untuk memastikan aspirasi masyarakat didengar dan mendapat perhatian yang serius,” ujar salah satu perwakilan TBBR di lokasi aksi.

Penulis: Johansyah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *