Reportase Expose.com, Sendawar – Warga Kecamatan Bentian Besar, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), kembali dihebohkan dengan fenomena aliran air sungai yang berubah warna menjadi hitam pekat di sekitar Jalan Poros Bentian Besar. Peristiwa ini menjadi viral setelah seorang warga, Arief Witara, mengunggah video yang memperlihatkan genangan air berwarna hitam pekat tersebut di media sosial.
Menanggapi laporan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat di bawah kepemimpinan Bupati Frederick Edwin melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutai Barat bergerak cepat dengan menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan pengecekan.
Kepala DLH Kutai Barat, RL Bandarsyah, SE., M.Si., membenarkan adanya video viral yang memperlihatkan dugaan genangan limbah di sekitar jembatan Jalan Poros Bentian Besar. Menurutnya, pihak DLH segera berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk melakukan verifikasi di lapangan.
“Kami dari Dinas Lingkungan Hidup Kutai Barat langsung menerjunkan tim untuk mengecek kebenaran video tersebut. Peninjauan lapangan turut didampingi oleh pihak Kecamatan Bentian Besar, pemerintah kampung, Badan Permusyawaratan Kampung (BPK), Kapolsek Bentian Besar beserta jajaran, perwakilan PT Borneo Citra Persada Mandiri (BCPM), serta Arief Witara selaku pelapor,” ujar Bandarsyah kepada Reportase Expose, Rabu (29/7/2026).

Bandarsyah menjelaskan, tim gabungan melakukan pengambilan sampel air sekitar pukul 15.30 WITA. Sampel kemudian dimasukkan ke dalam cool box untuk menjaga kondisinya sebelum dibawa ke laboratorium independen di Samarinda.
Untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas, DLH Kutai Barat juga melibatkan langsung Arief Witara sebagai pelapor dalam proses pengawalan sampel hingga ke laboratorium.
“Langkah ini kami ambil demi menjaga kredibilitas dan keabsahan sampel. Baik dari pihak pelapor maupun tim DLH, sampel yang dibawa berasal dari sumber yang sama, titik yang sama, dan akan diuji di laboratorium independen yang sama,” tegasnya.
Ia menambahkan, penyebab pasti perubahan warna air sungai beserta kandungannya baru dapat dipastikan setelah seluruh proses pengujian laboratorium selesai.
“Terkait sampel yang saat ini sedang menjalani pengujian di laboratorium independen di Samarinda, hasilnya diperkirakan dapat diketahui dalam waktu sekitar 12 hari kerja,” pungkas Bandarsyah.
Saat ini, sampel air dari lokasi kejadian telah berada di laboratorium independen di Samarinda untuk menjalani pengujian secara komprehensif. Hasil uji laboratorium tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan penyebab perubahan warna air sekaligus langkah penanganan lebih lanjut.
Penulis: Johansyah.





