Karhutla Mengancam Kutai Barat, 39 Hektare Lahan Terbakar, Polisi Perkuat Pencegahan

Reportase Expose.com Sendawar – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai meningkat di sejumlah wilayah Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Kondisi lahan yang kering akibat musim kemarau, ditambah hembusan angin dan vegetasi yang mudah terbakar, membuat api cepat merambat di sejumlah kawasan.

Dalam satu rangkaian penanganan pada Sabtu (29/8/2026), tim gabungan dari kepolisian, BPBD, TNI, KPHP/Dinas Kehutanan, Manggala Agni, pemerintah kecamatan dan kampung, perusahaan serta masyarakat bergerak menangani kebakaran di beberapa lokasi.

Bacaan Lainnya

Sedikitnya 39 hektare lahan terbakar di tiga lokasi, yakni Kampung Pepas Eheng, Kampung Mendung dan Kampung Sang-Sang. Sementara itu, kebakaran di Kampung Gunung Bayan pada Sabtu malam menghanguskan sekitar 2 hektare lahan.

Di tengah meningkatnya potensi kebakaran tersebut, upaya pencegahan juga diperkuat. Polsek Melak bersama berbagai unsur menggelar pelatihan, sosialisasi dan patroli gabungan dengan melibatkan sekitar 50 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) di Kecamatan Mook Manaar Bulatn.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika api sudah muncul, tetapi juga pada kesiapsiagaan, patroli dan pelibatan masyarakat untuk mencegah kebakaran sejak dini.

Salah satu kebakaran dengan luasan terbesar terjadi di Kampung Pepas Eheng RT 01, Kecamatan Barong Tongkok.

Personel Polsek Barong Tongkok bersama BPBD Kutai Barat, Manggala Agni, aparat kampung dan masyarakat melakukan pengecekan lokasi sejak pukul 09.00 WITA. Saat tiba sekitar pukul 09.30 WITA, petugas masih menemukan dua titik api yang merambat akibat kondisi angin cukup kencang.

Koordinasi langsung dilakukan dengan BPBD Kutai Barat untuk memperkuat penanganan. Sekitar pukul 11.00 WITA, lima unit kendaraan pemadam BPBD tiba di lokasi dan bersama-sama melakukan pemadaman.

Penanganan juga mendapat dukungan satu kendaraan pemadam Manggala Agni, dua kendaraan roda dua serta satu mobil pikap milik masyarakat yang membawa tandon air.

Api akhirnya berhasil dipadamkan dan dilanjutkan dengan proses pendinginan hingga pukul 15.45 WITA.

Dari hasil pengecekan, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 25 hektare. Lahan tersebut merupakan area eks PT PIS (Perusahaan Inti Sendawar) yang terdiri dari perkebunan sawit dan semak belukar.

Kapolsek Barong Tongkok melalui personelnya menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat setelah proses pemadaman dilakukan.

“Kondisi lahan yang kering dan angin yang cukup kencang membuat api berpotensi kembali muncul dan merambat. Karena itu, kami bersama pemerintah kampung, BPBD dan masyarakat akan terus melakukan monitoring serta mengaktifkan jaringan informasi masyarakat untuk mempercepat laporan apabila ditemukan titik api,” ujar Kapolsek Barong Tongkok melalui personelnya.

Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan selama kondisi cuaca masih meningkatkan risiko terjadinya karhutla.

Kebakaran juga terjadi di Kampung Mendung, Kecamatan Muara Pahu. Penanganan melibatkan personel Polsek Muara Pahu, Polsek Muara Lawa dan Polsek Melak bersama Camat Muara Lawa, Petinggi Kampung Mendung, KPHP Damai/Dinas Kehutanan serta relawan PT Manor Bulan Lestari.

Patroli dan pengecekan dimulai sekitar pukul 13.30 WITA. Petugas menemukan sejumlah titik api, termasuk lokasi yang berdekatan dengan permukiman warga.

Sekitar pukul 14.30 WITA, tim gabungan mulai melakukan pemadaman. Petugas juga membuat pemblokiran jalur api untuk mencegah rambatan ke kawasan lain.

Patroli gabungan kembali dilakukan sekitar pukul 17.00 WITA. Setengah jam kemudian, api berhasil dipadamkan dan dilanjutkan dengan pendinginan oleh tim Dalkarhutla KPHP Damai.

Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 10 hektare, dengan kondisi lahan berupa tanah berpasir putih dan gambut yang ditumbuhi ilalang, daun serta pepohonan kering.

Kapolsek Muara Pahu melalui personelnya menegaskan, pemantauan tetap dilakukan karena terdapat sejumlah jalur yang berpotensi menjadi rambatan api.

“Kami tidak hanya fokus memadamkan titik api, tetapi juga memastikan tidak ada jalur rambatan yang dapat mengarah ke permukiman maupun wilayah lainnya. Patroli dan monitoring akan terus dilakukan bersama pemerintah kampung, perusahaan, KPHP dan masyarakat,” ujarnya.

Penanganan didukung tiga unit water tank supply milik PT Manor Bulan Lestari, satu kendaraan operasional Camat Melak, dua unit Hilux dan satu kendaraan operasional KPHP Damai/Dinas Kehutanan.

Di saat sejumlah wilayah menghadapi kebakaran, Polsek Melak mengambil langkah pencegahan dengan memperkuat kemampuan masyarakat menghadapi potensi karhutla.

Kegiatan sosialisasi, pelatihan KTPA dan patroli gabungan digelar di Lapangan Sepak Bola PT KSD, Kampung Tondoh, Kecamatan Mook Manaar Bulatn, sekitar pukul 11.00 WITA.

Kegiatan melibatkan unsur TNI, pemerintah kecamatan, Dinas Pertanian, KPHP Mook Manaar Bulatn, aparatur empat kampung, manajemen PT KSD, personel Polsek Melak dan Koramil Melak serta sekitar 50 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA).

Peserta mendapatkan penjelasan mengenai fungsi dan kesiapan sarana-prasarana penanganan karhutla. Pelatihan KTPA kemudian dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dalam menghadapi potensi kebakaran.

Setelah pelatihan, tim melakukan patroli gabungan di sejumlah titik rawan serta mengecek Posko Karhutla untuk memastikan kesiapan personel dan peralatan.

Kapolsek Melak Iptu Rinto C. Simanjuntak, S.H., menegaskan bahwa pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh elemen.

“Pencegahan Karhutla membutuhkan sinergi seluruh pihak. Melalui pelatihan dan patroli ini, kami ingin memastikan seluruh unsur memiliki kesiapan dan kemampuan untuk melakukan pencegahan maupun penanganan secara cepat dan terpadu,” tegas Rinto.

Polsek Melak juga akan memasukkan kawasan PT KSD dan empat kampung di sekitarnya ke dalam rute patroli rutin, terutama ketika kondisi cuaca meningkatkan potensi kebakaran.

Sementara itu, tim gabungan Polsek Siluq Ngurai, TNI, BPBD, Brigif TP 85 dan masyarakat menangani kebakaran lahan di Kampung Sang-Sang, Kecamatan Siluq Ngurai.

Pemadaman dimulai sekitar pukul 10.00 WITA setelah petugas menerima informasi mengenai kebakaran.

Personel Polsek Siluq Ngurai yang dipimpin Ipda Ramli Parningotan Sianturi, S.H., M.H., bersama Posramil Siluq Ngurai, tim pemadam Brigif TP 85, BPBD Kecamatan Siluq Ngurai dan masyarakat bergerak melakukan pemadaman.

Hasil pengecekan menunjukkan luas lahan yang terbakar sekitar 2 hektare, dengan vegetasi berupa semak belukar.

Setelah sekitar dua jam berjibaku, api berhasil dikendalikan dan dipadamkan sekitar pukul 12.00 WITA. Petugas kemudian melakukan penyisiran dan pemantauan untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali menyala.

Petugas Polsek Siluq Ngurai mengajak masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan, terutama ketika kondisi lingkungan sangat mudah terbakar.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan tidak melakukan pembakaran lahan. Pencegahan sejak dini sangat penting agar kebakaran tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar,” ujar petugas di lokasi.

Ancaman karhutla kembali terjadi pada malam hari di Dusun Manau RT 004, Kampung Gunung Bayan, Kecamatan Muara Pahu.

Mendapat informasi kebakaran, personel Polsek Muara Pahu bersama BPBD Kecamatan Muara Pahu, Koramil Muara Pahu, pihak perusahaan, aparat kampung dan masyarakat langsung bergerak ke lokasi.

Petugas tiba sekitar pukul 20.30 WITA dan segera melakukan pengecekan serta pemblokiran jalur api. Penanganan diperkuat satu unit water tank dari PT Karunia dan PT GBPC.

Sekitar pukul 21.00 WITA, tim memusatkan pemadaman pada titik api yang berada di belakang rumah warga. Langkah ini dilakukan untuk mencegah api menjalar ke permukiman.

Dua unit kendaraan pengendalian karhutla BPBD Kabupaten Kutai Barat kemudian tiba sekitar pukul 22.00 WITA untuk memperkuat penanganan.

Sekitar pukul 22.30 WITA, api yang menjalar ke arah permukiman dan kawasan hutan berhasil dipadamkan.

Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 2 hektare. Kondisi tanah gambut, akar gambut, daun dan pepohonan kering serta cuaca berangin menjadi faktor yang membuat api cepat merambat.

Kapolsek Muara Pahu melalui personelnya menegaskan bahwa pemantauan tetap dilakukan setelah api berhasil dipadamkan.

“Kami memastikan lokasi tetap dipantau dan dikoordinasikan dengan aparat kampung agar apabila kembali muncul titik api dapat segera ditangani. Kami juga meminta masyarakat segera melaporkan setiap titik api agar penanganan bisa dilakukan sedini mungkin,” tegasnya.

Rangkaian kejadian tersebut menjadi perhatian serius karena sebagian besar lokasi kebakaran berada di kawasan dengan vegetasi kering dan kondisi tanah yang mudah terbakar.

Kepolisian bersama BPBD, TNI, KPHP, Manggala Agni, pemerintah daerah, perusahaan dan masyarakat terus memperkuat patroli serta monitoring di wilayah yang dinilai rawan.

Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan, sekecil apa pun, karena api dapat dengan cepat membesar ketika berhadapan dengan lahan kering dan angin kencang.

Selain itu, warga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap atau titik api di sekitar lingkungan mereka.

Kecepatan informasi dan respons menjadi kunci. Semakin dini titik api diketahui, semakin besar peluang kebakaran dapat dikendalikan sebelum meluas dan mengancam permukiman maupun kawasan lainnya.

Penulis: Johansyah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *