Luruskan Isu Pencemaran Sungai Mahakam, PDAM Kubar: Bukan Limbah, Di Duga Tumpahan CPO

Reportase Expose.com | Kutai Barat – Isu dugaan pencemaran Sungai Mahakam di sekitar Water Treatment Plant (WTP) Royoq yang sempat ramai diperbincangkan masyarakat akhirnya mendapat penjelasan dari pihak Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Setelah melakukan pemeriksaan lapangan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH), PDAM menegaskan bahwa material yang ditemukan di permukaan sungai bukanlah limbah CPO sebagaimana yang banyak disebutkan, melainkan tumpahan minyak CPO (Crude Palm Oil)

Bacaan Lainnya

Meski keberadaan tumpahan minyak tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran masyarakat terkait kualitas air bersih yang diproduksi PDAM, hasil pemeriksaan sementara menunjukkan tidak ada dampak terhadap proses pengolahan maupun distribusi air kepada pelanggan.

Perwakilan PDAM Ando Ure menjelaskan, posisi minyak yang mengapung di permukaan sungai berbeda dengan titik pengambilan air baku yang berada sekitar delapan meter di bawah permukaan. Selain itu, inspeksi yang dilakukan bersama DLH juga tidak menemukan adanya kandungan minyak pada instalasi pengolahan, reservoir, maupun jaringan distribusi pelanggan.

Saat ini, sampel yang telah diambil di lapangan masih menunggu hasil pengujian laboratorium di Samarinda setelah 14 hari kerja guna memastikan sumber dan karakteristik tumpahan tersebut.

“Hasil pengecekan bersama DLH menunjukkan bahwa yang ditemukan bukan limbah CPO, melainkan tumpahan minyak CPO. Keduanya memiliki karakteristik dan dampak yang berbeda. Berdasarkan hasil pengamatan dan pengambilan sampel, material yang terlihat di permukaan sungai merupakan tumpahan minyak CPO,” ujar Ando bagian Laboratorium PDAM Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, keberadaan minyak tersebut tidak mempengaruhi operasional pengolahan air bersih PDAM dan memastikan proses produksi air bersih tetap berjalan normal karena posisi minyak berada di lapisan permukaan sungai.

“Minyak berada di permukaan air, sedangkan pipa hisap air baku kami berada sekitar delapan meter di bawah permukaan. Setelah kami periksa, tidak ditemukan sisa minyak pada instalasi pengolahan air maupun pada air yang telah didistribusikan kepada pelanggan,” katanya.

Untuk memastikan kondisi di lapangan, tim gabungan PDAM dan DLH melakukan inspeksi ke sejumlah perusahaan yang beroperasi di sekitar lokasi. Dalam pemeriksaan tersebut, tim mengunjungi PT PT Citra Agro Kencana (CAK) dan PT Kruing Lestari Jaya yang lokasinya berada tidak jauh dari WTP Royoq.

Di PT CAK, pihak perusahaan menyatakan tidak melakukan pembuangan minyak ke Sungai Mahakam. Namun saat pemeriksaan lapangan, tim menemukan adanya tetesan minyak CPO pada salah satu pipa besi di duga milik PT CAK.

“Saat pemeriksaan ditemukan tetesan minyak CPO pada salah satu pipa besi dan temuan tersebut telah didokumentasikan oleh tim DLH. Di sekitar area tongkang juga ditemukan sisa minyak CPO dalam jumlah kecil. Dugaan sementara, ketika hujan turun, sisa minyak tersebut terbawa aliran air menuju Sungai Mahakam,” jelasnya.

Sementara itu, saat inspeksi di PT Kruing Lestari Jaya, tidak ditemukan indikasi adanya tumpahan minyak karena PT Kruing tidak sedang berkegiatan saat itu.

“Saat kami datang, aktivitas pemuatan CPO tidak sedang berlangsung. Dari hasil pemeriksaan lapangan juga tidak ditemukan indikasi tumpahan, ” sambungnya.

Berdasarkan investigasi mediareportaseexpose di lapangan, masyarakat sekitar yang beraktivitas di sungai mengaku tidak merasakan dampak seperti kulit licin maupun iritasi,” ujarnya.

Meski ditemukan jejak minyak di salah satu lokasi pelabuhan perusahaan, PDAM menegaskan belum dapat menyimpulkan pihak yang bertanggung jawab atas tumpahan tersebut.

“Kami tidak bisa menuduh atau menyimpulkan pihak tertentu sebagai sumber tumpahan. Sampel sudah kami kirim ke laboratorium di Samarinda untuk dilakukan pengujian lebih lanjut. Kami menunggu hasil ilmiah sebelum mengambil kesimpulan,” tegasnya.

PDAM juga memastikan kualitas air yang diterima pelanggan masih memenuhi standar dan aman digunakan.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan kami, tidak ditemukan minyak CPO pada proses pengolahan, reservoir maupun jaringan distribusi pelanggan. Secara karakteristik, minyak CPO tidak menyatu dengan air dan akan mengapung di permukaan karena memiliki berat jenis yang berbeda,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa titik pengambilan air baku berada jauh di bawah permukaan sungai dan berjarak sekitar 4 hingga 5 meter dari lokasi yang terlihat pada dokumentasi tumpahan.

“Kami telah memeriksa instalasi pengolahan, reservoir hingga sampel air di rumah pelanggan, termasuk di rumah saya sendiri. Hasilnya tidak ditemukan adanya kandungan minyak CPO. Jika kondisi tersebut membahayakan kesehatan masyarakat, tentu kami tidak akan berani mendistribusikan air kepada pelanggan,” katanya.

Ditanya apakah pihak PDAM tidak membuat pelaporan kepada aparat penegak hukum, PDAM menyatakan saat ini masih fokus pada pengumpulan data dan menunggu hasil laboratorium.

“Kami belum melaporkan ke APH karena masih menunggu hasil pengujian. Kami tidak ingin terburu-buru menyimpulkan sumber tumpahan mengingat banyak perusahaan yang beroperasi di sepanjang Sungai Mahakam. Penentuan pihak yang bertanggung jawab merupakan kewenangan penyidik,” ujarnya.

PDAM bersama instansi teknis terkait akan terus melakukan pemantauan dan koordinasi guna memastikan kondisi Sungai Mahakam tetap terkendali.

“Kami berharap hasil laboratorium nantinya dapat menjadi dasar bagi DLH maupun Dinas Kesehatan untuk memberikan rekomendasi kepada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sepanjang badan sungai agar menjalankan SOP dengan baik dan tidak membuang limbah maupun material yang berpotensi mencemari lingkungan,” pungkasnya.

Hingga berita ini di turunkan. Dinas Lingkungan Hidup Kutai Barat saat di konfirmasi belum memberikan pernnyataan resmi terkait tumpahan minyak di sungai Mahakam termasuk pihak manajemen PT Citra Agro Kencana (CAK).

Penulis: Johansyah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *